
STIT Raden Wijaya, Mojokerto – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) STIT Raden Wijaya Mojokerto menyelenggarakan kegiatan akademik di luar kelas dalam bentuk Forum Kajian Sosial dengan tema “Isu Kemiskinan, Anak Yatim, dan Dhuafa dalam Perspektif Tanggung Jawab Sosial” pada Jumat (20/10/2023). Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari JPZIS Damar Dawarblandong, yakni Idin Kusairi, seorang praktisi di bidang pemberdayaan sosial dan filantropi Islam.
Forum Kajian Sosial ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa terhadap realitas sosial yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait persoalan kemiskinan serta kondisi anak yatim dan dhuafa. Melalui kegiatan akademik di luar kelas ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami isu tersebut secara teoritis, tetapi juga mampu melihatnya dari sudut pandang praktik sosial yang nyata.
Dalam pemaparannya, Idin Kusairi menjelaskan bahwa kemiskinan merupakan persoalan struktural yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dan generasi muda. Ia menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial yang memiliki kepekaan, empati, dan kepedulian terhadap kelompok rentan di masyarakat.
“Mahasiswa tidak cukup hanya cakap secara akademik, tetapi juga harus memiliki kesadaran sosial. Isu kemiskinan, anak yatim, dan dhuafa adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan aksi nyata, bukan sekadar wacana,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan peran lembaga filantropi Islam seperti JPZIS dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui program sosial, pendidikan, dan ekonomi. Mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana konsep tanggung jawab sosial dalam Islam dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dan profesional.
Kegiatan forum berlangsung secara dialogis dan interaktif. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi, menyampaikan pandangan, serta mengajukan pertanyaan terkait tantangan pengelolaan program sosial, pola pendampingan anak yatim dan dhuafa, serta peluang keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya mahasiswa dalam sesi diskusi. Forum ini menjadi ruang refleksi bersama untuk menumbuhkan kesadaran bahwa permasalahan sosial bukanlah isu yang jauh dari kehidupan kampus, melainkan bagian dari realitas yang harus direspons secara akademik dan praktis.
Melalui kegiatan akademik di luar kelas ini, Program Studi Pendidikan Agama Islam STIT Raden Wijaya Mojokerto menegaskan komitmennya dalam mengintegrasikan pembelajaran dengan realitas sosial. Forum Kajian Sosial diharapkan mampu membentuk karakter mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam keilmuan, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Ke depan, kegiatan serupa direncanakan akan terus dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan pembelajaran kontekstual dan pengembangan soft skills mahasiswa PAI. (eva/ska)
