Forum Kajian Sosial Prodi PAI STIT Raden Wijaya: Bahas Toleransi Beragama dan Kerukunan Sosial

STIT Raden Wijaya, Mojokerto — Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) STIT Raden Wijaya Mojokerto menyelenggarakan Forum Kajian Sosial dengan tema “Toleransi Beragama dan Kerukunan Sosial di Tengah Keberagaman Masyarakat Indonesia” pada Jum’at (21/07/2023). Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 1 STIT Raden Wijaya Mojokerto dan diikuti oleh mahasiswa Prodi PAI sebagai bagian dari penguatan wawasan keislaman dan kebangsaan.

Forum Kajian Sosial ini bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman kritis mahasiswa terhadap realitas sosial keagamaan di Indonesia yang majemuk, sekaligus memperkuat nilai-nilai toleransi sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Di tengah dinamika sosial dan potensi gesekan antarumat beragama, kegiatan ini dinilai relevan sebagai ruang dialog akademik yang konstruktif.

Muhammad Taufiqurrahman, M.Pd. dalam arahannya menyampaikan bahwa toleransi beragama bukan sekadar konsep normatif, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata di ruang sosial. Menurutnya, mahasiswa PAI memiliki peran strategis sebagai calon pendidik dan agen moderasi beragama di tengah masyarakat.

“Indonesia adalah bangsa yang dibangun di atas keberagaman. Oleh karena itu, sikap saling menghargai, memahami perbedaan, dan menjaga kerukunan sosial harus menjadi karakter utama mahasiswa, khususnya mahasiswa Pendidikan Agama Islam,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa nilai-nilai Islam sejatinya mengajarkan perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya. Forum kajian semacam ini, menurutnya, menjadi sarana penting untuk membumikan ajaran tersebut dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kegiatan Forum Kajian Sosial berlangsung secara interaktif. Mahasiswa tidak hanya menyimak pemaparan materi, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi dan penyampaian pandangan terkait tantangan toleransi beragama di lingkungan sekitar. Berbagai isu aktual turut dibahas, mulai dari potensi konflik sosial berbasis agama hingga peran generasi muda dalam menjaga harmoni sosial.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan selama forum berlangsung. Diskusi ini diharapkan mampu membuka wawasan mahasiswa tentang pentingnya pendekatan dialogis dan inklusif dalam menyikapi perbedaan.

Melalui Forum Kajian Sosial ini, Program Studi Pendidikan Agama Islam STIT Raden Wijaya Mojokerto menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan komitmen kebangsaan yang kuat. Kegiatan serupa direncanakan akan terus dikembangkan sebagai bagian dari pembinaan akademik dan karakter mahasiswa. (eva/ska)