
STIT Raden Wijaya, Mojokerto – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) STIT Raden Wijaya Mojokerto menyelenggarakan Forum Kajian Sosial dengan tema “Tantangan Hoaks, Ujaran Kebencian, dan Etika Bermedia Sosial di Era Digital” pada Jumat (8/12/2023). Dalam kegiatan ini, Ketua Prodi PAI Muhammad Taufiqurrahman, M.Pd., dihadirkan sebagai pemateri dan dihadiri oleh mahasiswa Prodi PAI sebagai bagian dari penguatan literasi digital dan etika sosial di lingkungan akademik.
Forum Kajian Sosial ini dilaksanakan sebagai respons terhadap maraknya penyebaran informasi palsu, ujaran kebencian, serta penyalahgunaan media sosial yang berpotensi merusak tatanan sosial. Di era digital yang serba cepat, mahasiswa dituntut tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan sikap etis dalam menggunakan media sosial.
Dalam pemaparannya, Muhammad Taufiqurrahman, M.Pd., menekankan bahwa hoaks dan ujaran kebencian sering kali menyebar karena rendahnya literasi digital dan kurangnya kesadaran etika dalam bermedia. Ia mengingatkan bahwa media sosial sejatinya dapat menjadi sarana edukasi dan dakwah yang positif apabila digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.
“Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus mampu menjadi contoh dalam bermedia sosial. Verifikasi informasi, menjaga etika komunikasi, serta menghindari provokasi adalah bagian dari tanggung jawab moral di ruang digital,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai etika Islam dalam bermedia sosial, seperti kejujuran, kehati-hatian, dan sikap saling menghormati. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, relevan untuk menghadapi tantangan hoaks dan ujaran kebencian yang kerap memicu konflik sosial.
Forum kajian berlangsung secara interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswa aktif menyampaikan pandangan serta pengalaman mereka dalam menghadapi informasi menyesatkan di media sosial. Diskusi ini mendorong mahasiswa untuk lebih kritis dalam memilah informasi serta berani mengambil peran sebagai agen literasi digital di lingkungan sekitarnya.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan mahasiswa selama kegiatan berlangsung. Forum ini tidak hanya menjadi ruang penyampaian materi, tetapi juga wadah refleksi bersama tentang peran generasi muda dalam menciptakan ruang digital yang sehat, aman, dan beretika.
Melalui Forum Kajian Sosial ini, Program Studi Pendidikan Agama Islam STIT Raden Wijaya Mojokerto menegaskan komitmennya dalam membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik dan karakter sosial yang relevan dengan perkembangan zaman. Kegiatan ini diharapkan mampu membentuk mahasiswa yang cerdas secara digital, bijak dalam bermedia sosial, serta berkontribusi positif bagi masyarakat. (eva/ska)
