
STIT Raden Wijaya, Mojokerto — Perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan eksploitasi alam menjadi tantangan global yang semakin mendesak untuk disikapi secara serius, termasuk dari perspektif keagamaan. Menanggapi hal tersebut, STIT Raden Wijaya Mojokerto menyelenggarakan Forum Kajian Ekoteologi dan Krisis Lingkungan dengan tema “Perspektif Islam terhadap Krisis Iklim, Kerusakan Lingkungan, dan Eksploitasi Alam” pada Jumat (15/08/2025). Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari Gusdurian.
Forum ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai kontribusi nilai-nilai Islam dalam merespons krisis lingkungan yang terjadi saat ini. Pendekatan ekoteologi Islam dipandang sebagai kerangka etis dan spiritual yang relevan dalam membangun kesadaran ekologis dan tanggung jawab sosial umat.
Dalam pemaparannya, pemateri dari Gusdurian menekankan bahwa krisis iklim dan kerusakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari pola relasi manusia dengan alam yang cenderung eksploitatif. Islam, menurutnya, mengajarkan prinsip keseimbangan, keadilan, dan keberlanjutan dalam pengelolaan alam sebagai bagian dari amanah Tuhan.
“Eksploitasi alam secara berlebihan merupakan bentuk ketidakadilan ekologis. Islam menempatkan manusia bukan sebagai penguasa mutlak alam, melainkan sebagai penjaga yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan ciptaan,” ungkap pemateri.
Lebih lanjut disampaikan bahwa upaya menghadapi krisis iklim memerlukan perubahan paradigma dan aksi nyata, baik pada level individu maupun kelembagaan. Lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kritis generasi muda agar mampu mengintegrasikan nilai keislaman dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Kegiatan forum berlangsung secara dialogis dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan dan refleksi terkait peran umat Islam dalam menghadapi tantangan krisis iklim, serta praktik konkret pelestarian lingkungan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Forum Kajian Ekoteologi dan Krisis Lingkungan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan akademik di luar kelas yang diselenggarakan STIT Raden Wijaya Mojokerto untuk memperkuat integrasi keilmuan, nilai keislaman, dan kepedulian sosial. Melalui forum ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan berdasarkan prinsip-prinsip Islam.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, STIT Raden Wijaya Mojokerto menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang kajian akademik yang responsif terhadap isu-isu kemanusiaan dan lingkungan, serta mendorong lahirnya kesadaran ekologis yang berakar pada nilai-nilai Islam. (eva/ska)
