Manusia sebagai Khalifah, STIT Raden Wijaya Tegaskan Tanggung Jawab Teologis terhadap Lingkungan

STIT Raden Wijaya, Mojokerto — Krisis lingkungan yang semakin nyata menuntut keterlibatan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan, dalam membangun kesadaran ekologis berbasis nilai keagamaan. Menyikapi hal tersebut, STIT Raden Wijaya Mojokerto menyelenggarakan Forum Kajian Ekoteologi dan Krisis Lingkungan dengan tema “Manusia sebagai Khalifah: Tanggung Jawab Teologis terhadap Alam” pada Jumat, (18/07/2025). Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Forum ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai relasi antara ajaran Islam dan tanggung jawab manusia terhadap kelestarian lingkungan. Konsep manusia sebagai khalifah di bumi menjadi landasan teologis utama dalam membangun etika lingkungan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, pemateri dari MUI menjelaskan bahwa Islam memandang alam sebagai amanah yang harus dijaga dan dikelola secara bertanggung jawab. Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini tidak hanya dipahami sebagai persoalan ekologis, tetapi juga sebagai krisis moral dan spiritual akibat lemahnya kesadaran manusia terhadap nilai-nilai keagamaan.

“Manusia sebagai khalifah memiliki kewajiban teologis untuk menjaga keseimbangan alam. Eksploitasi berlebihan dan sikap abai terhadap lingkungan bertentangan dengan prinsip Islam yang menekankan keadilan dan kemaslahatan,” tegas pemateri.

Lebih lanjut, disampaikan bahwa upaya pelestarian lingkungan perlu dimulai dari perubahan cara pandang dan perilaku individu, termasuk di lingkungan kampus. Pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran ekoteologis kepada generasi muda agar mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian alam.

Kegiatan forum berlangsung secara interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswa aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait peran umat Islam dalam menghadapi krisis lingkungan, serta implementasi nilai-nilai ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari dan aktivitas sosial kemasyarakatan.

Forum Kajian Ekoteologi dan Krisis Lingkungan ini merupakan bagian dari kegiatan akademik di luar kelas STIT Raden Wijaya Mojokerto yang bertujuan untuk mengintegrasikan keilmuan, nilai keislaman, dan kepedulian sosial. Melalui forum ini, mahasiswa diharapkan memiliki kesadaran kritis dan tanggung jawab moral dalam menjaga lingkungan hidup.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, STIT Raden Wijaya Mojokerto menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang kajian akademik yang responsif terhadap isu-isu global, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendorong kesadaran ekologis berbasis nilai teologis. (eva/ska)