Merawat Harmoni Sosial, STIT Raden Wijaya Kaji Sinergi Antara Ulama dan Umara

STIT Raden Wijaya, Mojokerto — Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) STIT Raden Wijaya Mojokerto menyelenggarakan Forum Kajian Kepemimpinan dengan tema “Sinergi Ulama dan Umara dalam Kepemimpinan Sosial dan Kebangsaan” pada Jumat (17/05/2024). Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Mojokerto dan diikuti oleh mahasiswa sebagai bagian dari penguatan wawasan kepemimpinan sosial dan kebangsaan.

Forum Kajian Kepemimpinan ini dilaksanakan untuk menegaskan pentingnya kolaborasi antara ulama dan umara dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat persatuan, serta merawat nilai-nilai kebangsaan di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang. Mahasiswa diajak untuk memahami bahwa kepemimpinan sosial tidak dapat berjalan efektif tanpa sinergi antara otoritas keagamaan dan pemerintahan.

Dalam pemaparannya, pemateri dari MUI Kota Mojokerto menekankan bahwa ulama dan umara memiliki peran strategis yang saling melengkapi. Ulama berperan sebagai penjaga moral dan nilai-nilai keagamaan, sementara umara bertanggung jawab dalam pengelolaan kebijakan dan tata kelola pemerintahan. Sinergi keduanya dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis dan berkeadilan.

“Ketika ulama dan umara berjalan seiring, maka kepemimpinan akan mampu menghadirkan ketenteraman, keadilan, dan kemaslahatan bagi masyarakat,” ungkap pemateri.

Lebih lanjut, disampaikan bahwa dalam konteks kebangsaan Indonesia yang plural, sinergi ulama dan umara juga berperan penting dalam menangkal radikalisme, merawat toleransi, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mahasiswa dipandang perlu memahami peran tersebut agar kelak mampu mengambil posisi kepemimpinan yang bijak dan bertanggung jawab.

Forum berlangsung secara dialogis dan interaktif. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pandangan terkait relasi ulama dan umara dalam kehidupan sosial, politik, dan keagamaan. Diskusi ini mendorong mahasiswa untuk melihat kepemimpinan sebagai amanah sosial yang harus dijalankan dengan prinsip moral, keadilan, dan kepentingan bersama.

Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif mahasiswa selama kegiatan berlangsung.
Forum Kajian Kepemimpinan ini menjadi ruang refleksi akademik yang mengaitkan konsep kepemimpinan Islam dengan realitas sosial dan kebangsaan.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Agama Islam STIT Raden Wijaya Mojokerto menegaskan komitmennya dalam membentuk mahasiswa yang memiliki wawasan kepemimpinan integratif, berlandaskan nilai keislaman dan kebangsaan. Forum Kajian Kepemimpinan diharapkan mampu melahirkan generasi pemimpin yang mampu menjembatani kepentingan moral dan struktural demi terwujudnya masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. (eva/ska)